Saturday, 24 January 2009

Obrolan Kami, Beda ;D

Hmmm kalau dipikir-pikir banyak juga temanku di kelas yg already taken, alias punya pacar. Memang, topik obrolan dengan kawan kini dibanding pas SMA dulu sudah agak bergeser. Yg dulu rame dengan si dia udah jadian & ditembak pas tahun baru, sekarang jadi hm kalau mau nikah nanti kayanya aku pengen yg sesama dokter deh, biar pas praktek nanti bisa diskusi.


Atau pernah denger ini?


Makanya nak, carinya yg lebih tua aja dari kita. Selain si lelaki sudah punya pekerjaan, wanita itu kan secara emosional lebih labil daripada si lelaki, supaya bisa ada yg tenangin kita. (apa selalu begitu?)


Atau yg begini??


Duh ko-as cuakep itu kenapa ya? Masa dari tadi dia ngelirik terus ke sini?? Jangan-jangan dia naksir lagi *dig dug lub dub dub* (ada cabe menclok di gigi kaleee )


Intinya, anak kuliahan udah bisa bicara nikah bowww
Hmm tak kupungkiri kalau kadang aku merasa "Masya Allah! Bener ya? Koq rasanya cepat banget udah pada ngomongin nikah segala?".


Ga hanya itu.
Beberapa teman juga sepertinya mulai menseriusi hubungan mereka sebagai pacar yg mungkin nantinya akan berlanjut ke jenjang rumah tangga. Dengan kata lain, sembari belajar juga sembari mematangkan diri untuk menjadi seorang suami & seorang istri.


Whoaaa...
Secepat itu kah? Atau diriku saja kah yg terlambat memikirkan itu semua?
Pernah kuberpikir begitu bahagianya mereka-mereka yg telah menikah (termasuk beberapa temanku ) sehingga insya Allah mereka bisa hidup bersama dengan orang tersayang. Siapa yg nggak mau??


Lagian Allah SWT juga berfirman di QS 53 ayat 45:
"...dan sesungguhnya Dialah yg menciptakan pasangan laki-laki & perempuan..."
Subhanallah, siapa sih yg pengen menolak menikah?


Caranya juga bermacam jenis.


Ada yg memperbanyak kenalan. Entah SKSD sama kakak kelas (ih nggak banget!), atau melirik-lirik adik kelas yg lagi ada kuliah (ckckck ) supaya banyak yg kenal sama kita. Otomatis antrean membanjir (mungkin )


Ada yg mulai mencari dari sekarang. Hm setidaknya berkawan dekat lah. Kalau ada yg sreg, boleh lah dilirik, boleh lah diperdalam profilnya (jadi ingat mbak-mbak di counter-counter baju Ps Mangga Dua )


Ada juga yg benar-benar diniatkan untuk konsen dulu ke kuliah. Pokoknya belajar itu yg terpenting, NOMOR SATU! Yg lainnya? NO WAY! Terkadang ada beberapa yg berpikiran untuk dicarikan & dikenalkan oleh ortu saja (biasanya sih ortu seneng buanget!!!). Mengapa? Biasanya pilihan ortu kualitasnya terjamin, juga gampang ridhonya & rumah tangga awet sampai tua, walau tak sedikit yg keukeuh berpendapat "Ini mah udah zamannya Cinta Fitri, bukannya SITI NURBAYA lagi atuh". Hmmm...


Tak lupa juga, beberapa teman memilih cara bertaaruf, dengan menuliskan biodata diri & dengan pertolongan perantara yg dipercaya (seperti ustadz atau ustadzah yg telah menikah) untuk menukarkannya dengan seorang ikhwan yg kita sreg/bahkan dipilihkan juga oleh sang perantara (wah, sudah lama aku tahu tentang hal ini, tapi baru teringat sekarang ).
Jadi ingat, pernah ada seorang kawan non Islam yg bertanya apa yg tukar biodata begitu itu adalah Islam murni? (ups berarti kalau gitu ada Islam modern alias campur aduk dunk ). Ya wes kujawab aja (dengan tak enak hati) mestinya kalau menikah ya begitu yg baiknya. Jujur kalau aku ditanya "koq umat Islam lainnya nggak kaya begitu? Malah banyak yg pacaran", aku ga bisa jawab. Untungnya pembicaraan beralih ke topik lain. Alhamdulillah ya Allah, sungguh aku tak tahu harus jawab apa . Mengiyakan malah membuat agama jatuh di depan agama lain, sungguh have no idea...


Kembali ke topik asal.
Dari sebegitu banyak pilihan dalam mencari jodoh (cieh ciehhh ), bakal punya cerita & kenyamanan tersendiri bagi masing-masing. Entah ingin yg simpel-simpel aja, ataupun ingin memilih secara merdeka tanpa paksaan pihak lain (Pemilu kali ). So, pilih yg mana?


"Tiga orang yg akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yg selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yg selalu memberi penawar, & seorang yg menikah demi menjaga kehormatan dirinya" (Hadist dari Abu Hurairah yg diriwayatkan Imam Ath-Thabrani)


240109; 19.09 WIB
Kota Sungai Musi
~Kamar~

Friday, 23 January 2009

Berani Untuk Berani

"Hei, jangan keluar dulu donk. Kita masih diskusi"

Hal yg sejak dulu masih susah diwujudkan, hanya bisa dilakukan oleh sebagian orang, terutama terhadap hal-hal yg orang-orang kebanyakan lebih memilih untuk diam saja. Hmm tapi walau tak berani dalam tindakan nyata, seseorang itu bisa saja berani menegakkan suatu kebenaran di media lain. Bukan dalam tingkah laku yg nyata, tetapi melalui nyanyian lagu, atau tulisan misalnya. Mengeluarkan unek-unek dengan tulisan (ketikan?) tangan yg tidak selancar ketika kita mengkritik seseorang dengan perkataan dari bibir.

"Masa sudah selesai Ni? Mubazir ih kalau nggak dimakan"

Memperingatkan seseorang terkadang segan kita lakukan. Padahal jelas-jelas apa yg ia lakukan itu salah. Namun diam seribu bahasa, anggapan sudah lumrah, dan beribu alasan lainnya dilontarkan, supaya tak kena oceh si yg diperingatkan, supaya tak timbul masalah baru, supaya diri ini aman.

Sering kali setelah berani mengungkap kalau sesuatu itu lah yg benar, membuat diri kita legaaaaaaaaa bangeeeetttttt! Tapi tak jarang jerat syaithan + kepengecutan kita bergabung untuk membentuk suatu aksi diam-saja.com.

Sejak lahir, hingga kini, aku belum berani mencicipi bagaimana rasa keberanian mengungkap kebenaran itu. Oke, rasanya ada yg mengganjal ketika tahu bahwa itu adalah SALAH, seharusnya yg BENAR itu begini begitu bla bla bla...

Seorang teman yg bertugas membuat laporan kelompok membuatku salut. Ia berani tak mencantumkan nama temannya gara-gara ia tak mengumpulkan data yg menjadi bagiannya untuk dikerjakan.

Salah?
Tak juga. Yg salah itu orang yg TIDAK memenuhi apa yg menjadi tanggung jawabnya.

Sanksi/hukumannya harusnya dari siapa?
Entah.
Dari dosen yg bersangkutan? Hmmm... Kaya anak kecil donk bisanya cuma ngadu.
Dari ia si pembuat laporan? Entah boleh entah tidak, tapi mungkin ini satu-satunya cara agar ia yg tak bertanggung jawab jadi sangat menyesal, karena akibatnya ia tak mendapat nilai. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali ia seperti itu. Wajar donk orang yg dianiaya (baca: pembuat laporan yg jadi bertambah beban kerjanya) ingin membuat yg tak bertanggung jawab itu jera

"Tolong ya, kalau di kelas itu jangan ribut. Kami jadi nggak bisa belajar dengan konsen nih!!!"

Sebuah kalimat yg menyeramkan namun menegakkan suatu kebenaran.

Kenapa menyeramkan?
Karena siap-siap saja kita dikucilkan oleh teman-teman sekelas.

Kenapa menegakkan kebenaran?
Karena itu benar. Hormatilah seseorang yg sedang berbicara di depan kelas, tentu kita nggak mau kan kalau kita dicueki saat sedang berbicara di depan? Dicueki sama dengan mempermalukan.

"Maaf mas mbak, jangan pacaran di pojokan gitu donk. RISIH"

Kapankah keberanian itu singgah di diri ini, yg jarang bahkan belum pernah merasakan leganya menyingkirkan sesuatu yg salah? Ataukah diriku ini masih dipenuhi berbagai macam kesalahan sehingga takut menegakkan kebenaran?

Wallahu 'alam...



230109; 13.34 WIB
Kota Sungai Musi
~Kampus Seruni~

Friday, 16 January 2009

Fase Relaksasi + Pengamatan

Akhirnya...

Aku masuk ke blog lagi, setelah lama ditelantarkan sejak awal blok 10 di tengah Desember lalu. Hix, lama juga ya =O Lagipula memaksakan diri untuk hanya memposting tulisan yang bagus-bagus saja hanya akan mematikan kekreativitasan diri. Akh sudahlah Nis, tulis saja saat kamu ingin menulis. Jangan terpaku pada keinginan hanya ingin memposting yang bagus-bagus saja.

Hm...

Oke...

Di tengah kesibukan kuliah + kegiatan yang (sebenernya) ga banyak, entah kenapa bikin aku lelah. Jengah. Aku pernah seharian ngantuknya sangat sangaaaattttt!!! Sampai-sampai di rumah pernah tidur paling awal (bayangkan, jam setengah 7 malam abis maghrib dah tidur!!! XO), bangunnya alhamdulillah paling pagi jam 3an dini hari hehe.

Hm...

Ada apa dengan diriku?

Beberapa hari belakangan ini setiap pagi hendak mandi entah kenapa air di bak terasa dingin bangettt. Nggak kaya biasanya. Bukan cuma air kamar mandi, belakangan juga kalau bangun pagi rasanya udaranya tuh dingiiiiiinnnnnn bangeeetttttt!!! Serasa lagi camping di pegunungan (haha *lebay mode:on*), entahlah, hal itu jadi bikin aku ingat sama jalan-jalan ke Cilember dulu =)

Sudah 1 bulan kulewati blok 10 ini. Awal Februari sudah ujian lagi. Whoaaa!!! Mohon do'akan ya teman-teman X'(

Untuk sementara, di akhir minggu ini, biarlah diriku tenang, tenang dari kesibukan kuliah + acara yang sebenernya ga banyak itu tadi. Hehehe. Cukup cerita hari ini. Just relax then...

Monday, 5 January 2009

Sesuatu Yg Paling Menyiksa...

Sudah lama hal itu terjadi. Delapan, atau sembilan tahun lalu. Aku tak ingat persis bagaimana kronologisnya, tapi yang jelas sangat kuingat akhir dari kejadian itu. (hampir) semuanya menjauh, termasuk orang yang telah kubuat tersinggung hatinya, kecuali mungkin mereka-mereka yang tak paham apa masalahku, sehingga mereka tak punya alasan (tak tahu?) mengapa mereka harus menjauhiku. Alasan “masih anak kecil” mungkin dapat jadi penyelamatku, karena wajar saja anak kecil membuat kesalahan yang mereka sendiri saja tak tahu apa itu benar atau salah. Hei, tapi saat itu aku telah baligh. Lalu?

Hari ini, klik demi klik pada 'kotak canggih' tak sengaja mengarahkan pandanganku ke foto-foto itu. Foto-foto masa SMA yang takkan terlupa menurut orang-orang namun takkan ingin diingat menurut pikiranku. Hm... tak semuanya, hanya beberapa yang kupikir sebaiknya hal tersebut tak ada.

Saat jenjang tengah & akhir masa HS aku kembali bertemu dengan ia, yang hatinya pernah (tak sengaja?) ku’sayat’. Ia masih seperti dulu. Agak tomboi. Ingin kusapa ia, seperti biasanya seseorang ingin bersapa dengan seorang kawannya. Tapi... lidah ini kaku. Rasanya ada ‘dinding’ tak terlihat yang membatasi diriku dengannya. Entah ia merasa atau tidak. Aku tak menemukan keanehan ini pada teman-teman yang lain. Ia tampak seperti biasa saja terhadap semuanya. Aku hanya temukan ‘dinding’ tersebut di antara aku & dia. Seakan saat denganku ia tak sebiasa ketika berpapasan dengan segudang teman-teman yang lain.

Akhirnya waktu benar-benar mengantarku sampai ke perpisahan HS. Lagi-lagi aku harus berkaku-kaku ria. Aku sendiri sebenarnya tak terlalu ingat apa kesalahanku. Kalaupun ingat, aku juga tak tahu & tak mengerti mengapa kata-kata yang menyakitkan hati seorang manusia bisa keluar begitu saja. Kenapa ya? Kurang kontrol lidah kah? Kesalahan saraf hipoglossus kah?

Diriku kembali ke foto-foto tersebut.

Terpampang foto-fotonya saat perpisahan. Aku tak berani melihatnya. Terutama matanya, yang seakan menyampaikan sesuatu yang tersirat padaku. Sesuatu yang mengatakan “diriku bersalah... aku punya salah besar...”

Sampai saat ini suara itu masih terngiang, makin buruk ketika teringat ataupun melihat wajahnya. Alhamdulillah seorang manusia biasa memiliki daya ingat terbatas. Saat lupa akan ia mungkin jadi saat yang bahagia :) Hehe, mungkin begitu...

Saat 8-9 tahun lalu itu, saat bersama-sama dengannya dulu mungkin aku hanya bercanda. Namun aku tak sangka, ia, juga teman-temannya jadi menjauh...

Cuek...

Sinis...

Kau tahu? Didiamkan lebih sakit.
Sakit banget, daripada sekedar diocehi panjang lebar kuadrat.

Mungkin aku pengecut. Aku tak (belum?) berani berterus terang kalau aku bersalah. Hal seperti ini mungkin masih kubawa-bawa, hingga sekarang. Aku takut bercanda. Aku takut timbul korban lagi gara-gara ‘tusukan’ lidahku. Dinginnya sikap mereka masih terbayang, walau tak terlalu jelas di ingatan.

Apa akan ada saat ketika aku tak takut lagi melihat wajahnya di suatu tempat, bahkan dari sebuah foto ia sekalipun?


~berharap teman-temanku tidak berkurang lagi, cukup saat itu saja :)~
050109; 00.36 WIB
Kota Cuko Pempek

Friday, 12 December 2008

Ketika Melihat Dikau...

Jangan salahkan aku
Jika aku diam membiarkan tangismu sendiri

Jangan sangka aku jahat
Kalau kamu pikir aku tak perhatian dengan dukamu

Jangan buat aku serba salah
Ketika tepukanku kau sangka sebagai sindiran

Aku hanya bingung
Airmatamu harus kuapakan, kawan?


~kepada kawan2 yg mendapat duka setelah ujian, SEMANGATTT!!!~
16.53 WIB
Kota sungai Musi

Hari Ini...

Hari ini, hari yang paling aneh sejak umurku baru berkurang beberapa hari yang lalu.

Pertama, tak ada libur panjang, bagooooeeessss banget. Hi5 Emoticon


Jadi ingat sms/testi teman waktu dulu-dulu (pas semester 1 atau 2 ya?). Katanya sih anak FK paling kasihan dibanding fakultas lain, gara-gara liburnya pelit, tapi aku ga percaya. Yang bener aja, apa ada dosen/karyawan yang rela liburnya dipotong, tak sama seperti sebagian besar para pekerja di Indonesia ini?

Dan tanpa basa-basi, tanpa permisi, di papan tulis di ruang karantina kami, tertera rentetan tulisan sang ketua kelas:

Tanggal 15 Desember, masuk blok 10 (hmmm... oke. Welcome to the 10th block).
Tanggal 25-29 Desember, libur (hmmm wooottt???)
Tanggal 30-31 Desember, masuk (wakkkksssss, apa maksudnya ini???)
Tanggal 1-2 Januari, libur lagi (glek!)
Tanggal 5-... masuk lagi (...)

Terbukti sudah. Hi5 Emoticon

Thanks for remind me friend, how are you now? Your number is gone.

Kedua, Osce hari ini, tak terkatakan.

Meja pertama
Sudah duduk sang dosen sebagai penguji. Tadinya yang ada di bangku tersebut adalah seorang dosen bapak-bapak, namun ternyata saat aku yang diuji, dosen tersebut minta digantikan oleh seorang dosen ibu-ibu yang selama ini dikenal baik oleh kami para mahasiswa. Mungkin karena sebentar lagi adalah shalat Jum’at. Alhamdulillah, Hi5 Emoticon
setidaknya aku telah mengenal ibu dosen yang ada di hadapanku sekarang.

Setelah berbusa-busa (lebay mode: on) berbicara mengejar waktu agar sempat menjawab semua yang diminta,

“Kamu anggap saya pasien”

Whoa? Hi5 Emoticon


“... bukan langsung dijawab ya bu?” tanyaku takut-takut. Ibu dosen menggeleng.

Ah...

Buyar...

Aku salah, saudara-saudara. Hi5 Emoticon


Masya Allah... maaf bu Hi5 Emoticon


Ibu dosen tersebut baik banget sudah mengingatkan diriku yang tak sadar kalau aku ini salah (terima kasih banyak ibu X’O), kalau tidak? Entah apa jadinya. Namun aku tetap tak tahu apa yang terjadi dengan nilaiku di kertas penilaiannya, karena baru mulai ujian saja aku sudah salah pengertian duluan. Hix... =’(

Setelah itu apa yang kukatakan tadi sudah tak ingat lagi. Hi5 Emoticon


Meja dua, tiga, empat, lima?
Semua diburu waktu. Baru sadar menulis setengah bagian, ternyata bel ‘pengusir’ telah berbunyi. Hi5 Emoticon

Aaahhh...
Goodbye then... Hi5 Emoticon


Ketiga, ada duka di setiap akhir ujian.

Hmmm...
Aku tidak.
Lho? Hi5 Emoticon

Apa ada yang aneh dengan diriku?
Tak ada duka yang singgah padahal aku tahu ujianku tak cukup berhasil (walau tak ingin dikatakan gagal), namun senangpun juga tak mampir, karena apa yang patut digembirakan daripada yang namanya ujian yang begitu?

What happened with me? Hi5 Emoticon




~tak senang tak sedih~
16.07 WIB
Kota sungai Musi

Pertanyaan Hari Ini

Sering kita berpikir, alangkah bahagianya orang yg mendapat nilai bagus. Seneng betul kalau bisa melalui segala ujian dengan lancar, anamnesis kepada pasien dengan perfect & excellent, ujian pilihan ganda benar semuanya dari 100 soal yang dikerjakan, presentasi yang menarik hati para dosen, tata krama berbicara yang lugas, tepat lagi sopan. Kesempurnaan itu menjadi mimpi di setiap orang yang ingin sukses di hidupnya. Hi5 Emoticon


Namun ada kalanya mimpi itu sangaaaattttt jauh, Hi5 Emoticon
padahal keringat sudah diperas hingga banjir, tulang sudah dibanting hingga hancur, otot sudah hampir copot dari tempat melekatnya (haha lebay mode: on nih). Hi5 Emoticon
Tahu-tahu hasilnya tak lebih dari standar yang kita inginkan. Hi5 Emoticon


Sebenarnya apa sih yang kita dapat dari kepayahan yang tak menghasilkan apa-apa itu? Hi5 Emoticon
~gimana nasib Osceku? ='(~
121208; 14.32 WIB
kota sungai Musi

Thursday, 11 December 2008

Selepas SOCA (akhirnya X'D)

Alhamdulillah, SOCA kali ini dapat menarik senyum di bibir banyak teman di kelasku, Hi5 Emoticon
walau ada beberapa yang masih tak semangat.


Ada yang terlupa memasukkan bahan penting ke flip chart (kertas panjang untuk presentasi), ada yang lesu karena mendapat dosen perfectionist yang sekalinya nanya bener-bener bikin kita 'tersudut' (duh seramnya! alhamdulillah tak dapat aku yang macam tu), ada yang tersungging karena nilai 80 (insya Allah) sudah di tangan (wuah, yang ini memang sukses bikin iri! hix hix). Namun ada juga yang tersinggung, disebabkan hal-hal lain yang diungkapkan sang dosen, entah pakaian, kerapihan, mungkin juga gara-gara tak mengucapkan salam ketika masuk ruangan.


Kabar menggembirakan lainnya, akhirnya format ujian kembali seperti biasa. Bukan OSOCA lagi, tapi telah kembali jadi SOCA. Entah apa alasannya, yang pasti membuat budak-budak* senangnya tak ketulungan Hi5 Emoticon
Asli, bikin ujian SOCA jadi lebih ringan, hehe. Karena jujur aja, format OSOCA di blok lalu bikin kita-kita seangkatan (sekelas khususnya) gempar! Gara-gara format ujian yang istilah kerennya still unclear, juga bener-bener tak ade yang namanya simulasi, bagaimana sebenarnya ‘wujud’ OSOCA itu =(


Kami seangkatan 2007 juga harus 'menelan pil pahit' (hehe) ketika tahu bahwa ujian yang tadinya mundur dari tanggal 9 (minggu ini) menjadi tanggal 15 (minggu depan), eh tanpa alasan yang jelas, ujian-ujian tersebut kembali dimajukan! X'O


"Huh, mempermainkan hati nian. Padahal aku la santai-santai"


Hehe, tampaknya tak ada kata santai dalam kamus kami , walau memang benar kalau di dunia ini adalah perjuangan, istirahat kita adalah di surga =)


Secara garis besar, bisa dikatakan diri ini sangat lumayan banget dari yang kemarin-kemarin. Semoga keadaan seperti ini terus berlanjut ya Allah, aamiin.


Sekarang waktunya mengejar nilai untuk OSCE mendatang.
Met berjuang kawan-kawan yang juga tengah ujian.
Kita bisa koq (^_^)



*anak-anak

101208; pukul 22.00 WIB
Kota pempek

Wednesday, 19 November 2008

40 Harian? Hmmm...

“Teman-teman, nanti malam ada ngaji di rumah Xxx untuk 40 hari meninggalnya ayah Xxx”

Demikian pengumuman seorang teman di depan kelas di tengah keramaian, mumpung dosen belum datang mengajar. Yap, tepat 40 hari yang lalu temanku berduka, karena ayahnya telah ‘dipanggil’ oleh Yang Mahakuasa. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin.

Ingin aku datang, tapi jarak & alat transport sering (selalu?) jadi hambatan. Bagaimana ya? Belum pernah aku datang melayat, hmmm mungkin pernah 1x, tapi itu pun saat kecil, di saat aku belum mengerti apa-apa.

“40 harian itu maksudnyo apo Mul?” seorang teman yang cukup dekat denganku tiba-tiba bertanya. Dia seorang non Islam. “Cak ngedo’ake perjalanannyo e?”

Hening. Wah aku harus jawab apa ya? Sepengetahuanku sih, manusia meninggal itu sudah berada di sisi-Nya. Tak ada perjalanan yang harus dilalui, melewati berbagai rintangan agar dapat ‘sampai’ dengan selamat di suatu tempat yang indah di alam gaib sana, dll. Kalau ada perjalanan & di saat hari ke-40 kita mendo’akan perjalanan sang arwah, hmmm sejujurnya aku tak yakin. Seperti itu kah? Apakah itu hanya sekedar kebiasaan/budaya yang dilakukan masyarakat untuk menghormati keluarga yang ditinggalkan? Atau mungkinkah peringatan 40 hari itu adalah bid’ah?

“Wah aku takut salah ah, aku dak terlalu tau jugo Fe” kataku, mungkin sebagai pengakhiranku dalam pembicaraan itu, takut-takut memberi pengetahuan yang salah. Tahu-tahu malah memberi image jelek terhadap Islam, karena tak mengatakan sesuatu yang benar. Haruskah aku malu, yang tak bisa menjawab pertanyaan tentang agamanya sendiri?

“Jangan katakan apa yang engkau ketahui, tetapi ketahuilah apa yang engkau akan katakan” (sms seorang kawan)

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim 2647)


Hamba mohon ampun ya Allah, sungguh hamba-Mu masih minim pengetahuan mengenai agama-Mu yang penuh rahmat ini. =(

Monday, 17 November 2008

Apa Kabar Adik-adikku?

Enam belas tahun telah berlalu. Saat itu tak terlalu kuingat wajah kalian. Maklum saja, apa sih yang tersisa di ingatan seorang balita berumur 3 tahunan? Yang kuingat hanya kerumunan om & tante duduk-duduk di lantai beralaskan karpet di sekelilingku. Saat itu kalian ada di hadapanku. Diam. Hmmm aku tak tahu kenapa kalian di situ. Yang kutahu, aku tak ingin berlama-lama di sini. Aku nggak mengerti kenapa aku ikut duduk di dekat kalian? Kenapa orangtuaku terlihat suram? Kenapa mereka banyak sekali duduk-duduk mengelilingi kalian? Mengapa mereka berkomat-kamit?

Beberapa tahun kemudian aku mulai mengerti. Walau belum pernah ada ikatan batin layaknya mama kita & kalian, namun aku ingin ada itu di hatiku.

Ramadhan & Qadir. Bibirku belum pernah terucap untuk memanggil kalian untuk mengerjakan PR. Pikiranku belum pernah membayangkan bagaimana rupa kalian, 2 sosok lelaki kembar. Telingaku belum pernah mendengar kalian berteriak-teriak mendapat nilai bagus saat ujian berakhir. Mataku pun, seakan tak pernah ‘menyimpan’ kalian berdua di sudut ingatanku.

Seperti apa ya kalian sekarang ini?

Ganteng kah?

Pintar kah?

Bandel kah?

Sholeh kah?

Bagaimana kabar surga di sana? Titipkan kami tempat istirahat di sana ya.


~teruntuk Ramadhan & Qadir, istirahatlah kalian di sisi-Nya~

Sunday, 9 November 2008

Dari Cuek Jadi Melek(at)

Reaksi ketika seorang kawan SMA menelepon?

BAHAGIAAAAAAAA SANGAAAATTTT!!! X)

Sudah 1,5 tahun berlalu ga ketemu, nggak terkira seberapa besarnya rasa kangen yang 'menggurita' (halah!). Pertanyaan basi namun tetap jadi favorit lidah pun keluar,

"apa kabar kawan?"

Selama beberapa menit, kami saling bertukar pikiran, diskusi, berbicara via telepon. Juga berbicara tentang kuliah masing-masing. Sementara aku bercerita panjang lebar tentang kampusku yang terbagi menjadi 2 tempat, Aya banyak bercerita tentang suka-dukanya membedah marmut, yang beberapa jam lalu sang marmut masih berlari-lari ceria, tahu-tahu harus berakhir lunglai di meja praktikum. Hwaduuhhhh ^^i

Sekilas namun ada, terdengar perubahan pada dirinya. Dari suaranya. Jika dulu ada seorang perempuan yang tergila-gila sama bola, juga blak-blakan mengemukakan ide terhadap sesuatu hal yang dia jumpai, teringatlah semua pikiran orang-orang akan Aya, temanku ini =)

Namun sekarang? Ehmmm... suaranya jauuuuuhhhhhh lebih lembut daripada saat masa sekolah dulu. Pikirannya? Hmm jauh lebih bijak, tak terlalu berapi-api seperti masa sekolah dulu.

Ga disangka!
Aya yang dulu ternyata.......... jadi sedemikian lembutnya.......... Whoaaaaa.......

Dan alhamdulillah, aku tahu bahwa Aya jadi lebih dekat dengan Sang Rabb, dengan banyaknya ucapan menyebut nama-Nya. Terima kasih ya Allah Engkau telah lindungi kawanku ini =)

Karena sekolah kami dulu di kota metropolitan, namun sekarang kami, juga kawan-kawan lainnya, telah berpencar ke mana-mana. Dari penghujung Sumatra, hingga ke teluk Jawa Timur. Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara & Papua? Hmmm... belum ada kabar sih.

Di sela-sela pembicaraan tak lupa kami mengenang masa-masa SMA yang menyenangkan.

Aahh...

Ingin rasanya diri ini balik ke waktu itu. Waktu di mana di sekeliling kita banyak kawan (yang juga banyak kita cuekin ;P *sungguh aku mohon maaf ya, hehe*), eh setelah berpisah begitu lamanya ternyata malah rindu banget 1 sama lain gini, seperti sekarang ini. Kenapa ya koq bisa gitu sih? Hehehe =)

Semoga tali pertemanan ini takkan pernah putus, sampai kapan pun.

Tidak.

Tali persaudaraan sesama umat Nabi Muhammad SAW ini akan tetap lekat, seperti lekatnya perangko dengan amplop (hehe masih ada ya? =D).

Sama-sama berjuang menggali ilmu ya Aya. Di jalan-Nya.




~Aya, kira-kira ada ga yang berubah sama diri aku? ^^~

Saturday, 8 November 2008

Hati-hati Banyak Ngemil!

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Gawat ga sih kalau aku jadi kedoyanan banget sama R*c***s* N****i? (sori disensor, soalnya ga enak aja sih ^^i) Soalnya, bisa aja kan rasa enak itu berasal dari penguat rasa mononatrium glutamat/monosodium glutamat. Itu bahan kimia yang biasa terkandung dalam makanan ringan, yang (kata orang) bisa bikin otak bodoh. Hmm aku rasa sih memang bener, soalnya neurotransmiter (penghantar saraf) di otak itu bakal terganggu kerjanya gara-gara zat ini, otomatis kemampuan otak kita dalam berpikir bisa payah. Yah walau dari segi kehalalannya insya Allah bisa dipercaya. Ada label halalnya MUI koq =)

Walau enak, jangan sampai kebanyakan ngemil ya. Selain kalori dari snack/makanan itu besar, kalau ga dibarengi aktivitas (baca: malasss bergerak) bisa meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus.

HATI-HATI! (O_o)

Karena dalam darah di tubuh kita akan mengandung banyak banget glukosa, sehingga hormon insulin yang tugasnya menyimpan glukosa tersebut ke dalam otot dll, akan 'kelelahan' (Kebayang donk kalau orang lelah & capai buanget lagi lari marathon, yang kalau ga istirahat, bisa-bisa pingsan!). Nah, maka bisa rusaklah sel-sel penghasil insulin itu. Dan jadilah Diabetes Mellitus yang akan membuat kita harus mengeluarkan biaya besar untuk berobat, supaya bisa sembuh. Jangan salah lho! Diabetes itu bisa menyebabkan kematian!

Sayangi tubuh kita ya. Bersyukurlah kita diberi hidup sehat oleh Allah SWT. Karena kalau kita sakit, kita ga bisa beraktivitas dengan lancar seperti sekarang ini. Ga bisa beribadah & mengumpulkan pahala lagi dech!

Hidup tubuh sehat! \(^_^)/

Mybluespica is now on earth ^_^

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Alhamdulillah akhirnya jadi juga pembuatan blog baru. Dengan 'rumah' yang loadingnya insya Allah lebih cepat & memungkinkan lebih banyak orang untuk membaca & memberi masukan, dengan ini, Annisa "thelilgirl" menyatakan...

blog http://mybluespica.blogspot.com

telah resmi dibukaaaa... \(>.<)/ *Tok... Tok... Tok*

Alhamdulillaahirabill'aalamin...
Moga banyak hikmah yang dapat Anda semua raih. Aamiin ya Allah ^_^